Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum istinja’ dengan air zamzam terbagi kepada tiga pendapat. Pertama, hal itu diharamkan walaupun ia telah suci dengannya oleh karena kehormatan air zamzam dan kemuliaannya, sebagian lain beralasan bahwa ia termasuk dari makanan pokok seperti halnya makanan, maka ia pun ikut menjadi haram karena dimakan atau diminum. Pendapat kedua adalah makruh dan yang ketiga adalah berlawanan dengan yang pertama, dan tidak boleh menghilangkan najis dengannya apalagi istinja’, khususnya bila yang lainnya ada.
Dan hal-hal yang juga dilarang bersuci dengan air zamzam adalah dilarang memandikan mayat dengannya seperti yang diisyaratkan kepadanya oleh sebagian ulama.
Al-Fakihi menyebutkan, ia merupakan ulama abad ketiga bahwa penduduk Makkah memandikan mayat mereka dengan air zamzam, apabila mereka telah selesai memandikan mayat dan membersihkannya, mereka menjadikan akhir dari mandinya dengan maksud bertabarruk dengannya.
I’laamus Saajid bi Ahkaamil Masaajid (hal. 136-137), ada perubahan dan peringkasan, lihat juga Badaa-i’ul Fawaa-id (IV/47).
Syifaa-ul Gharaam bi Akhbaaril Baladil Haram, al-Fasi (I/258), dengan sedikit perubahan.
Ibid, I/258.
Beliau adalah Muhammad bin Ishaq bin ‘Abbas al-Faqihi Abu ‘Abdillah al-Makki, sejarawan, penulis kitab Akhbaaru Makkah fii Qadiimid Dahr wa Hadiitsihi, karya al-Fakihi. Wafat tahun 272 H, lihat Kasyfuzh Zhunuun (I/ 306), Hadiyyatul ‘Arifiin (VI/20), al-A’lam (VI/28). Muqaddimah pada juz pertama dari kitab Akhbaru Makkahkarya al-Fakihi dengan peneliti ‘Abdul Malik bin ‘Abdillah bin Duhaisy
Akhbaaru Makkah fii Qadiimid Dahr wa Hadiitsihi, al-Fakihi (II/48).
Lihat Syarhus Sunnah, al-Bagawi (VII/300),
Syifaa-ul Gharaam, al-Fasi (I/258), al-Jaami’ul Lathiif, Ibnu Zhahirah (hal. 277), bahkan pemindahan itu dianjurkan bagi madzhab Malik dan Syafi’i, lihat dua referensi terakhir